Category: Sapa Haji Indonesia

  • Data Manifes Jadi Penjaga Keselamatan Jemaah Haji, Ketelitian Petugas Bandara Arab Saudi Jadi Kunci

    Data Manifes Jadi Penjaga Keselamatan Jemaah Haji, Ketelitian Petugas Bandara Arab Saudi Jadi Kunci

    Arab Saudi — Ketelitian dalam pencatatan data manifes menjadi salah satu kunci penting dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/ 2026 M. Data manifes tidak hanya berfungsi sebagai administrasi perjalanan, tetapi juga menjadi alat utama perlindungan dan pengawasan terhadap jemaah haji Indonesia sejak keberangkatan dari Tanah Air, tiba di Arab Saudi, hingga kepulangan kembali ke Indonesia.

    Tugas penting itu dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh petugas haji tugas dan fungsi (TUSI) transportasi di Dua bandara Arab Saudii. Shavery dan Taufik Akbar menjadi bagian dari petugas yang memastikan seluruh data jemaah sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

    Mereka harus melakukan pengecekan detail terhadap jumlah penumpang pesawat, proses perpindahan jemaah menuju bus, hingga memastikan seluruh jemaah bergerak ke tujuan tanpa ada yang tertinggal di area bandara.

    “Ini bukan pekerjaan yang ringan, tetapi berkat kerja sama tim yang kuat dan kooperatif, apa yang saya kerjakan sebagai pengecekan jemaah atau penumpang pesawat yang datang ataupun nanti pulang ke Tanah Air menjadi ringan,” ujar Shavery di Jeddah, Senin (18/05/26).

    Menurutnya, akurasi data manifes sangat penting untuk menjaga kelancaran operasional haji sekaligus memberikan rasa aman bagi jemaah. Kesalahan kecil dalam pencatatan dapat berdampak besar terhadap proses pelayanan dan mobilisasi jemaah.

    Hal senada disampaikan Taufik Akbar. Ia menegaskan koordinasi antarpersonel menjadi faktor utama dalam memastikan seluruh jemaah terlayani dengan baik sejak tiba di bandara hingga diberangkatkan menuju Makkah dan Madinah.

    “Saya sebagai petugas haji transportasi selalu berkoordinasi baik dengan Shavery untuk pengecekan dan pengawasan terhadap jemaah haji yang tiba di bandara kemudian bergeser ke bus menuju Tanah Suci. Kami harus memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal di bandara,” katanya.

    Hingga Senin (18/05/26), pencatatan data manifes jemaah haji Indonesia dilaporkan masih sesuai dengan fakta di lapangan. Ketelitian para petugas menjadi bagian penting dalam menghadirkan pelayanan haji yang aman, tertib, dan humanis bagi seluruh jemaah Indonesia di Tanah Suci.

    Pewarta : Hebatdiki

  • Momen Hangat di Bandara Jeddah, Timwas Haji DPR RI Disambut Penuh Kekeluargaan

    Momen Hangat di Bandara Jeddah, Timwas Haji DPR RI Disambut Penuh Kekeluargaan

    SALAMRADIO.ID., Jeddah — Kedatangan Tim Pengawas (Timwas) Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 dari DPR RI di Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA), Jeddah, Minggu (17/05/26), berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Rombongan tiba sekitar pukul 17.35 Waktu Arab Saudi (WAS) dan langsung disambut Sekretaris Daerah Kerja (Daker) Bandara, Aruji.

    Sejak turun dari area kedatangan internasional, para anggota Timwas DPR RI tampak mendapat perhatian khusus dari petugas haji Indonesia yang telah bersiaga di bandara. Aruji menyampaikan sambutan hangat kepada rombongan, termasuk Neneng, Maman, dan anggota DPR RI lainnya yang datang untuk menjalankan fungsi pengawasan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

    Kedatangan Timwas DPR RI menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan terhadap jemaah haji Indonesia berjalan optimal, mulai dari proses kedatangan di bandara, layanan transportasi, akomodasi, hingga kesiapan petugas di lapangan.

    Aruji mengatakan koordinasi antara petugas bandara dan seluruh unsur pelayanan haji terus diperkuat agar jemaah memperoleh layanan yang aman, nyaman, dan manusiawi selama berada di Tanah Suci. Menurutnya, pengawasan langsung dari DPR RI juga menjadi motivasi bagi para petugas untuk menjaga kualitas pelayanan.

    Suasana penyambutan berlangsung akrab. Senyum dan sapaan hangat terlihat mewarnai pertemuan singkat tersebut. Momen itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam mengawal kelancaran operasional haji Indonesia yang setiap tahunnya melibatkan ribuan petugas dan ratusan ribu jemaah.

    Musim haji 2026 sendiri masih memasuki fase kedatangan jemaah Indonesia ke Arab Saudi. Pemerintah terus mengintensifkan pelayanan di berbagai sektor, terutama di area bandara yang menjadi pintu awal perjalanan spiritual para tamu Allah menuju Tanah Suci.

    Pewarta : Hebatdiki

  • Kemenhaj: Pembayaran Dam Harus Aman, Resmi, dan Sesuai Keyakinan Fikih Jemaah

    Kemenhaj: Pembayaran Dam Harus Aman, Resmi, dan Sesuai Keyakinan Fikih Jemaah

    SALAMRADIO.ID., Jakarta (Kemenhaj) — Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memastikan pengelolaan dam bagi jemaah haji Indonesia dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, perlindungan jemaah, serta penghormatan terhadap keberagaman pandangan fikih.

    Juru Bicara Kemenhaj, Suci Annisa, mengatakan pemerintah memberikan ruang bagi jemaah untuk melaksanakan dam sesuai keyakinan fikih masing-masing, baik melalui mekanisme pembayaran di Arab Saudi, di Indonesia, maupun melalui pelaksanaan puasa.

    “Pemerintah menghormati keberagaman pandangan fikih terkait pelaksanaan dam. Karena itu, jemaah diberikan ruang untuk menjalankan keyakinan fikih yang diyakini masing-masing, sepanjang dilakukan melalui mekanisme yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Suci Annisa dalam keterangan resmi, Minggu (17/5/2026).

    Berdasarkan data operasional terakhir, jumlah jemaah yang telah terdata membayar dam, baik melalui mekanisme pembayaran di Arab Saudi, di Indonesia, maupun melalui pelaksanaan puasa, mencapai sekitar 70.758 orang.

    Suci menjelaskan, bagi jemaah yang meyakini dam dapat dilaksanakan di dalam negeri, pemerintah mempersilakan pelaksanaan dam dilakukan di Indonesia melalui mekanisme yang sesuai ketentuan. Sementara bagi jemaah yang meyakini dam hanya sah dilaksanakan di Tanah Haram, pemerintah memfasilitasi pelaksanaan dam di Arab Saudi melalui lembaga resmi yang telah dilegalkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, yaitu Adahi Project.

    “Khusus bagi jemaah yang memilih melaksanakan dam di Arab Saudi, kami mengimbau agar pembayaran dilakukan melalui Adahi Project. Ini penting agar prosesnya resmi, transparan, dan melindungi jemaah dari risiko penipuan maupun penyalahgunaan dana,” tegasnya.

    Kemenhaj juga mengingatkan seluruh jemaah agar berhati-hati terhadap tawaran pembayaran dam dari pihak yang tidak jelas, baik secara langsung, melalui pesan singkat, media sosial, maupun pihak-pihak yang mengaku dapat membantu pembayaran dam dengan harga murah, cepat, dan mudah, namun tidak memiliki legalitas resmi.

    Menurut Suci, pengelolaan dam bukan hanya menyangkut pembayaran, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepastian pelaksanaan ibadah dan perlindungan jemaah.

    “Dam bukan sekadar transaksi pembayaran. Ini bagian dari kepastian ibadah jemaah. Karena itu, kami ingin memastikan jemaah mendapatkan informasi yang benar, memiliki pilihan sesuai keyakinan fikihnya, dan tetap terlindungi dari praktik tidak resmi yang berpotensi merugikan,” katanya.

    Apabila jemaah masih memiliki pertanyaan mengenai kewajiban dam, tata cara pembayaran, pilihan mekanisme pelaksanaan, maupun pandangan fikih yang diyakini, Kemenhaj mengimbau jemaah untuk berkonsultasi dengan pembimbing ibadah, petugas kloter, petugas sektor, maupun petugas PPIH Arab Saudi.

    Selain fokus pada pengelolaan dam, Kemenhaj juga menyampaikan perkembangan operasional haji 1447 H/2026 M. Hingga Minggu (17/5/2026), sebanyak 450 kloter dengan 173.928 jemaah dan 1.796 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi.

    Seiring berlanjutnya kedatangan jemaah haji gelombang kedua, sebanyak 171 kloter dengan 65.603 jemaah dan 684 petugas telah tiba di King Abdulaziz International Airport, Jeddah. Sementara itu, 435 kloter dengan 168.106 jemaah dan 1.740 petugas telah tiba di Makkah dan menempati akomodasi yang telah disiapkan.

    Kemenhaj juga mencatat sebanyak 11.960 jemaah haji khusus telah tiba di Makkah untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji tahun 1447 H/2026 M.

    Menjelang fase Armuzna, Kemenhaj bersama PPIH Arab Saudi terus mematangkan kesiapan layanan, mulai dari finalisasi data manifest jemaah, pemetaan pergerakan, transportasi, tenda, konsumsi, kesehatan, perlindungan jemaah, hingga pembinaan ibadah.

    “Kami mengimbau jemaah mulai menghemat energi dan menjaga kondisi fisik. Batasi aktivitas yang tidak mendesak, hindari paparan panas berlebihan, cukup minum, makan teratur, istirahat yang cukup, dan segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan,” ujar Suci.

    Khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, dan jemaah dengan penyakit penyerta, Kemenhaj meminta agar selalu berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua regu, ketua rombongan, serta petugas sektor.

    “Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang terus bekerja mendampingi jemaah di setiap fase layanan. Terima kasih juga kepada seluruh jemaah yang terus menjaga kedisiplinan, kebersamaan, dan mengikuti arahan petugas dengan baik. Semoga seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kelancaran, perlindungan, dan meraih haji mabrur,” tutup Suci.

    Sumber: Kemenhaj & Umroh
    Pewarta: Hebatdiki

  • Amplop Itu Ditolak Halus, Kisah Mengharukan Petugas Haji Indonesia yang Melayani Jemaah Tanpa Pamrih di Jeddah

    Amplop Itu Ditolak Halus, Kisah Mengharukan Petugas Haji Indonesia yang Melayani Jemaah Tanpa Pamrih di Jeddah

    SALAMRADIO.ID., Jeddah — Di tengah padatnya operasional kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Jeddah, Sabtu (16/05/2026), terselip sebuah kisah sederhana namun penuh makna tentang ketulusan pelayanan petugas haji kepada tamu Allah.

    Peristiwa itu terjadi saat seorang jemaah asal embarkasi YIA Yogyakarta membutuhkan bantuan menuju toilet untuk membuang hadas besar setelah tiba di Tanah Suci. Di tengah kesibukan pelayanan bandara, dua petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara, Nizam dan Yusuf, dengan sigap mendampingi jemaah tersebut hingga ke toilet dan menunggu dengan sabar selama kurang lebih 10 menit.

    Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi jemaah lanjut usia yang baru tiba setelah perjalanan panjang dari Indonesia, pendampingan tersebut menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti.

    Setelah selesai, jemaah tersebut tampak terharu dan mencoba memberikan sebuah amplop berisi uang kepada kedua petugas sebagai tanda terima kasih. Namun pemberian itu langsung ditolak secara halus oleh Nizam dan Yusuf.

    “Kami bertugas untuk melayani jemaah tanpa pamrih. Ini sudah menjadi komitmen dan prinsip kami sebagai petugas haji,” ujar Nizam.

    Menurutnya, seluruh petugas haji hadir untuk memastikan jemaah merasa aman, nyaman, dan terbantu selama menjalankan ibadah di Tanah Suci tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun.

    Sikap tegas namun santun yang ditunjukkan kedua petugas itu justru membuat sang jemaah semakin menghormati pelayanan haji Indonesia. Penolakan tersebut tidak menimbulkan rasa tersinggung, melainkan menjadi pembelajaran bahwa pelayanan yang tulus masih hidup di tengah penyelenggaraan ibadah haji.

    Pemerintah Indonesia terus menegaskan komitmennya menghadirkan pelayanan haji yang humanis melalui kehadiran petugas di seluruh lini, mulai dari bandara, akomodasi, transportasi, hingga pelayanan ibadah.

    Di balik lancarnya operasional haji 1447 H/2026 M, ada banyak kerja sunyi para petugas yang memilih melayani dengan hati. Mereka tidak hanya membantu perjalanan fisik jemaah menuju Baitullah, tetapi juga menjaga nilai keikhlasan dalam melayani tamu-tamu Allah.

    pewarta : Hebatdiki

  • Sudah 5 Kali Haji, Tapi Tahun Ini Paling Berkesan, Pengakuan Jemaah soal Pelayanan Haji Era Prabowo

    Sudah 5 Kali Haji, Tapi Tahun Ini Paling Berkesan, Pengakuan Jemaah soal Pelayanan Haji Era Prabowo

    SALAMRADIO.ID., Makkah — Pengalaman panjang menjalankan ibadah haji membuat Irwan Syafutra, jemaah asal Sumatera Utara yang tergabung dalam KNO Kloter 1, memiliki banyak perbandingan tentang pelayanan haji dari tahun ke tahun. Namun bagi Irwan, penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M kali ini menghadirkan kesan berbeda yang ia sebut sebagai salah satu yang terbaik selama dirinya datang ke Tanah Suci.

    “Kalau ke Tanah Suci mungkin saya sudah tidak ingat berapa kali. Tapi kalau haji, ini sekitar yang keempat atau kelima,” ujar Irwan saat ditemui di kawasan Jarwal, dekat Masjidil Haram, Makkah.

    Sebagai jemaah yang telah beberapa kali mengikuti ibadah haji, Irwan mengaku bisa merasakan langsung perubahan pelayanan yang semakin baik setiap tahunnya. Namun khusus pada musim haji 2026 di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia melihat peningkatan yang lebih signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    “Saya melihat ada sesuatu yang lebih tahun ini. Ketertibannya lebih baik, perencanaannya terasa lebih terkoordinir, terutama akomodasi, konsumsi, dan transportasi,” katanya.

    Irwan menilai pelayanan yang diberikan petugas haji Indonesia terasa lebih rapi dan terukur. Menurutnya, meski kuota jemaah tahun ini kembali penuh setelah sebelumnya sempat dibatasi pascapandemi, pelayanan tetap berjalan lancar dan nyaman.

    Ia bahkan mengaku terkesan dengan fasilitas penginapan jemaah Indonesia di Madinah maupun Makkah. Salah satu yang paling membekas baginya adalah kualitas hotel yang ditempati jemaah reguler Indonesia.

    “Dalam sejarah saya ikut haji, belum pernah jemaah reguler mendapat hotel seperti ini,” ungkapnya.

    Saat diminta memberikan penilaian terhadap penyelenggaraan haji tahun ini, Irwan memberi nilai tinggi. “Kalau menurut saya, nilainya sekitar 8 sampai 9,” ujarnya sambil tersenyum.

    Pengakuan Irwan menjadi gambaran bagaimana pelayanan haji Indonesia terus bertransformasi menjadi lebih humanis, tertib, dan nyaman. Di tengah jutaan jemaah dari seluruh dunia yang memadati Tanah Suci, pelayanan yang baik menjadi bagian penting dalam membantu jemaah menjalankan rukun Islam kelima dengan tenang dan khusyuk.

    pewarta : Hebatdiki

  • Kedatangan Jemaah Haji Indonesia 2026 Capai 170 Ribu Orang, Lansia Jadi Perhatian Utama Petugas

    Kedatangan Jemaah Haji Indonesia 2026 Capai 170 Ribu Orang, Lansia Jadi Perhatian Utama Petugas

    SALAMRADIO.ID., Jeddah — Operasional kedatangan jemaah haji Indonesia musim haji 1447 Hijriyah/2026 Masehi terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga 16 Mei 2026 pukul 19.00 waktu Arab Saudi, sebanyak 442 kelompok terbang atau kloter telah tiba di Tanah Suci.

    Data operasional mencatat angka kedatangan tersebut telah mencapai 83,87 persen dari total jemaah haji Indonesia tahun ini. Sementara jumlah jemaah yang sudah mendarat di Arab Saudi mencapai 170.937 orang.

    Dari total tersebut, sebanyak 37.126 jemaah lanjut usia atau lansia ikut tiba dan menjadi perhatian utama dalam pelayanan haji tahun ini. Para petugas haji Indonesia tampak aktif memberikan pendampingan sejak proses kedatangan di bandara hingga distribusi menuju hotel dan layanan ibadah.

    Di tengah padatnya arus kedatangan, suasana haru masih terasa di terminal kedatangan Bandara Arab Saudi. Banyak jemaah terlihat bersyukur akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah menunggu antrean keberangkatan selama bertahun-tahun.

    Petugas haji juga terus memperkuat layanan ramah lansia mengingat sebagian besar jemaah lanjut usia datang dengan kondisi fisik yang memerlukan perhatian khusus. Kursi roda, pendampingan mobilitas, hingga bantuan konsumsi menjadi bagian dari pelayanan yang terus disiagakan selama operasional berlangsung.

    Selain pelayanan fisik, para petugas Bimbingan Ibadah juga aktif mengingatkan kedisiplinan berihram bagi jemaah gelombang kedua yang mendarat melalui Bandara King Abdulaziz Jeddah sebelum menuju Kota Makkah. Edukasi dilakukan secara humanis agar jemaah tetap nyaman menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.

    Musim haji 1447 H menjadi momentum penting dalam penyelenggaraan pelayanan yang lebih responsif dan membumi. Di tengah cuaca panas Arab Saudi dan perjalanan panjang yang melelahkan, kehadiran petugas haji Indonesia menjadi penopang utama kenyamanan para tamu Allah selama berada di Tanah Suci.

    pewarta : Hebatdiki

  • Haji Bukan Tentang Kenyamanan, Pesan Menyentuh Petugas Haji soal Makna Kesiapan di Tanah Suci

    Haji Bukan Tentang Kenyamanan, Pesan Menyentuh Petugas Haji soal Makna Kesiapan di Tanah Suci

    SALAMRADIO.ID, Jeddah — Perjalanan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan hati yang penuh ujian kesabaran, keikhlasan, dan kesiapan diri. Di tengah jutaan manusia yang berkumpul menjalankan rukun Islam kelima, kenyamanan bukan lagi menjadi hal utama yang dicari para jemaah. Yang paling penting justru adalah kesiapan menghadapi setiap proses ibadah dengan hati yang lapang.

    Hal tersebut disampaikan petugas haji Indonesia, Nizam Malik, saat mendampingi pelayanan jemaah di Daerah Kerja Bandara Arab Saudi. Menurutnya, banyak jemaah datang dengan harapan besar mengenai kenyamanan selama berhaji, padahal hakikat ibadah haji adalah tentang kesiapan lahir dan batin.

    “Haji bukan memburu kenyamanan. Yang harus dipahami jemaah adalah kesiapan. Siap lelah, siap menghadapi panas matahari, siap mengeluarkan biaya, siap menahan amarah, dan siap berprasangka baik kepada Allah maupun kepada sesama,” ujar Nizam Malik.

    Di Tanah Suci, para jemaah memang dihadapkan pada situasi yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia. Cuaca ekstrem, antrean panjang, kepadatan manusia, hingga keterbatasan waktu istirahat menjadi bagian dari dinamika yang harus dijalani dengan kesabaran.

    Menurut Nizam, kesiapan mental menjadi kunci penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk. Ia menilai, jemaah yang datang dengan hati siap menerima segala keadaan biasanya lebih mudah menikmati proses ibadah dan tidak mudah mengeluh.

    Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan perjalanan wisata yang penuh fasilitas nyaman, melainkan perjalanan spiritual untuk melatih keikhlasan dan penghambaan diri kepada Allah SWT. Dalam setiap langkah thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah, jemaah diajak belajar tentang sabar, syukur, dan ketulusan.

    Di tengah padatnya pelayanan haji 2026, para petugas terus mengingatkan jemaah agar menjaga niat dan memperkuat kesabaran. Sebab pada akhirnya, kemabruran haji bukan diukur dari seberapa nyaman perjalanan dijalani, tetapi dari seberapa tulus hati mampu bertahan dalam setiap ujian selama berada di Tanah Suci.

    pewarta : Hebatdiki@MCH2026

  • Menahan Rindu di Tanah Suci, Kisah Sunyi Petugas Haji Indonesia Melayani Tamu Allah 24 Jam

    Menahan Rindu di Tanah Suci, Kisah Sunyi Petugas Haji Indonesia Melayani Tamu Allah 24 Jam

    SALAMRADIO.ID., Jeddah — Di balik lancarnya pelayanan jemaah haji Indonesia di bandara kedatangan Tanah Suci, ada perjuangan sunyi para petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara yang rela meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas negara. Sudah lebih dari sebulan mereka berada di Arab Saudi, berjibaku melayani ribuan jemaah yang datang silih berganti melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah dan Bandara King Abdulaziz International Airport (KAIA) Jeddah.

    Intensitas pekerjaan yang semakin tinggi tidak membuat semangat mereka surut. Siang dan malam, para petugas tetap sigap membantu jemaah lansia, disabilitas, mengatur perpindahan koper, memastikan transportasi berjalan lancar, hingga mendampingi jemaah yang mengalami kelelahan setelah perjalanan panjang dari Tanah Air.

    Namun di balik senyum dan pelayanan hangat kepada jemaah, tersimpan rasa rindu yang terus menghampiri. Selama lebih dari satu bulan, mereka harus berjauhan dari anak, istri, suami, maupun orang tua di Indonesia demi menjalankan amanah sebagai pelayan tamu Allah.

    Kerinduan terhadap keluarga menjadi ujian tersendiri bagi para petugas haji. Meski demikian, mereka berusaha tetap profesional dan menjaga komitmen pelayanan kepada jemaah. Suasana harmonis antarpetugas menjadi kekuatan utama untuk saling menguatkan di tengah padatnya aktivitas operasional haji.

    Di sela waktu istirahat yang terbatas, para petugas biasanya mencari hiburan sederhana untuk menjaga semangat dan mengelola rasa lelah. Ada yang bercanda bersama rekan kerja, melakukan panggilan video dengan keluarga, hingga sekadar menikmati kopi sambil berbagi cerita sesama petugas.

    Masa tugas mereka di Daker Bandara masih menyisakan hampir dua bulan lagi sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air. Meski berat menahan rindu, para petugas tetap percaya bahwa pelayanan terbaik kepada jemaah adalah bagian dari pengabdian dan ibadah yang penuh kemuliaan di Tanah Suci.

    pewarta : Hebatdiki

  • Tiga Langkah Radikal Dahnil Anzar Simanjuntak Benahi Pelayanan Haji

    Tiga Langkah Radikal Dahnil Anzar Simanjuntak Benahi Pelayanan Haji

    SALAMRADIO.ID., Ibadah haji selama ini bukan hanya menghadapi persoalan teknis pelayanan, tetapi juga persoalan tata kelola yang berlapis. Mulai dari antrean panjang, biaya yang terus membebani jemaah, hingga dugaan praktik rente yang menggerogoti pelayanan publik. Di tengah kompleksitas itu, langkah yang disampaikan Dahnil Anzar Simanjuntak menghadirkan pesan kuat bahwa pembenahan haji tidak bisa lagi dilakukan dengan cara biasa.

    Ada tiga langkah besar yang kini sedang dipersiapkan pemerintah dalam membenahi penyelenggaraan ibadah haji. Tiga langkah tersebut bukan sekadar perubahan administratif, tetapi upaya radikal untuk mengembalikan orientasi haji kepada kepentingan jemaah.

    Langkah pertama adalah pembenahan jangka pendek pada tata kelola pelayanan haji. Fokus utamanya sederhana namun mendasar, yakni memastikan seluruh proses penyelenggaraan haji bebas dari praktik korupsi, manipulasi, dan rente. Pelayanan keberangkatan, pemondokan, konsumsi, transportasi, hingga ketertiban di Armuzna harus berlangsung layak, tertib, dan manusiawi.

    Di titik inilah pemerintah mulai memangkas berbagai biaya yang selama bertahun-tahun dianggap tidak wajar. Efisiensi pada sektor konsumsi, pemondokan, dan layanan lainnya berhasil menurunkan ongkos haji hingga Rp6 juta dalam dua tahun terakhir. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa biaya haji sebenarnya masih dapat ditekan apabila tata kelola dilakukan secara bersih dan transparan.

    Namun pembenahan itu tentu tidak mudah. Dahnil secara terbuka mengakui adanya perlawanan dari “kartel haji” yang selama ini menikmati kesemrawutan tata kelola. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa reformasi haji sedang menyentuh akar persoalan yang selama ini dianggap tabu untuk dibongkar.

    Langkah kedua adalah pembenahan antrean haji yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat. Antrean yang mencapai puluhan tahun menghadirkan ketidakadilan bagi calon jemaah. Pemerintah mulai mengubah pendekatan distribusi kuota berdasarkan jumlah waiting list, bukan lagi berdasarkan jumlah penduduk Muslim. Dengan skema baru tersebut, antrean diupayakan lebih merata dengan kisaran sekitar 26 tahun di seluruh Indonesia.

    Meski demikian, angka tersebut tetap dianggap terlalu panjang oleh Presiden Prabowo Subianto. Dengan jumlah antrean mencapai 5,7 juta orang, pemerintah kini mencari formula baru yang lebih progresif untuk mengurai persoalan tersebut. Salah satu titik krusialnya adalah pembenahan tata kelola keuangan haji di Badan Pengelola Keuangan Haji atau BPKH.
    Keuangan haji, menurut Dahnil, harus sepenuhnya berpihak kepada jemaah. Transparansi menjadi kata kunci. Jemaah berhak mengetahui bagaimana uang mereka dikelola dan digunakan. Momentum perubahan undang-undang pengelolaan keuangan haji menjadi peluang penting untuk memperbaiki sistem yang selama ini dinilai kurang akuntabel.

    Sementara itu, langkah ketiga menjadi visi jangka panjang yang jauh lebih mendasar, yakni transformasi haji sebagai kekuatan peradaban. Haji tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan yang sibuk dengan urusan teknis dan ekonomi semata. Haji harus melahirkan kemabruran sejati yang berdampak pada kesalehan sosial, keadaban publik, dan kemajuan bangsa.
    Di titik inilah gagasan besar itu menemukan maknanya. Bahwa ibadah haji idealnya melahirkan manusia-manusia yang lebih jujur, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Kemabruran bukan sekadar gelar spiritual, tetapi energi moral untuk membangun peradaban yang lebih baik.

    Tentu pekerjaan tersebut tidak ringan. Namun dukungan Presiden Prabowo Subianto memberi ruang bagi langkah-langkah revolusioner itu untuk dijalankan. Seperti ungkapan yang disampaikan Dahnil, “a billion step begin with one step”, perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani.

    Pewarta: Hebatdiki

  • Bimbingan Ibadah Jadi Garda Terdepan Sempurnakan Ihram Jemaah Haji di Bandara Arab Saudi

    Bimbingan Ibadah Jadi Garda Terdepan Sempurnakan Ihram Jemaah Haji di Bandara Arab Saudi

    SALAMRADIO.ID, Jeddah — Kehadiran tim Bimbingan Ibadah Petugas Haji Daerah Kerja Bandara menjadi bagian penting dalam menyempurnakan pelaksanaan ihram jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriyah/2026 Masehi. Meski seluruh jemaah telah mengikuti manasik haji di Tanah Air sebelum keberangkatan, pelanggaran ringan terkait aturan ihram masih ditemukan saat kedatangan di Arab Saudi.

    Pantauan di area kedatangan bandara menunjukkan masih ada jemaah pria yang mengenakan kaos, sepatu tertutup, hingga masker ketika berada dalam kondisi ihram. Sementara itu, sebagian jemaah perempuan juga masih terlihat memakai cadar dan masker saat turun dari pesawat menuju terminal bandara.

    Kondisi tersebut langsung mendapat perhatian dari petugas Bimbingan Ibadah yang berjaga di Daerah Kerja Bandara. Dengan pendekatan humanis dan penuh kesabaran, petugas memberikan edukasi ulang mengenai larangan-larangan ihram agar ibadah jemaah tetap sah dan sesuai tuntunan syariat.

    Bagi jemaah pria, penggunaan pakaian berjahit seperti kaos, penutup wajah berupa masker, serta alas kaki yang menutupi mata kaki menjadi hal yang harus dihindari selama ihram. Sedangkan bagi jemaah perempuan, penggunaan cadar dan penutup wajah yang melekat rapat saat ihram juga termasuk hal yang terus diingatkan oleh petugas agar disesuaikan dengan ketentuan syariat.

    Pembimbing Ibadah Petugas Haji Indonesia, Dendi Yuda, mengatakan kehadiran petugas di bandara bukan hanya melakukan pengawasan, tetapi juga memastikan niat ihram jemaah benar-benar sempurna sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

    “Bagi jamaah yang belum niat ihram mereka juga dituntun untuk niat kemudian membaca doa setelah niat dan dibimbing untuk membaca talbiyah sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah SAW,” ujar Dendi Yuda.

    Petugas haji tampak tidak sekadar mengingatkan, tetapi juga membantu langsung para jemaah yang kebingungan mengganti perlengkapan ihram mereka. Beberapa petugas bahkan terlihat membimbing lansia dengan lembut agar tetap nyaman di tengah kondisi lelah usai perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

    Keberadaan Bimbingan Ibadah di bandara dinilai menjadi penyempurna niat ihram jemaah haji. Sebab, tidak semua jemaah mampu memahami detail aturan ihram hanya melalui manasik di daerah asal. Situasi perjalanan yang panjang, rasa gugup, hingga kondisi fisik yang menurun sering membuat jemaah lupa terhadap ketentuan dasar berihram.

    Musim haji 1447 H menjadi momentum penting bagi pelayanan ibadah yang lebih responsif dan membumi. Kehadiran petugas Bimbingan Ibadah bukan hanya memastikan kepatuhan syariat, tetapi juga menghadirkan rasa tenang bagi jemaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci.

    Pewarta : Hebatdiki