Category: Sapa Haji Indonesia

  • Menutup Armuzna, Kemenhaj Pastikan Mina Clear dan Siapkan Fase Kepulangan Jemaah

    Menutup Armuzna, Kemenhaj Pastikan Mina Clear dan Siapkan Fase Kepulangan Jemaah

    SALAMRADIO.ID, Makkah (Kemenhaj) — Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan perkembangan terkini penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M pascaberakhirnya fase puncak haji atau Armuzna.

    Kabiro Humas Kemenhaj Hasan Afandi, mengatakan seluruh rangkaian puncak ibadah haji yang meliputi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, serta lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik telah berjalan lancar, aman, tertib, dan terkendali.

    “Alhamdulillah, seluruh rangkaian puncak ibadah haji telah berjalan dengan baik. Per 30 Mei 2026 pukul 15.00 Waktu Arab Saudi, kawasan Mina telah dinyatakan clear dari jemaah haji Indonesia. Seluruh proses pendorongan jemaah dari Mina menuju hotel di Makkah selesai dengan aman, tertib, dan terkendali,” ujar Hasan di Makkah, Ahad (31/5/2026).

    Hasan menjelaskan, seluruh jemaah yang mengambil Nafar Awal maupun Nafar Tsani telah kembali ke hotel masing-masing di Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji. Menurutnya, penyelesaian fase Mina menjadi salah satu indikator penting kelancaran operasional penyelenggaraan ibadah haji Indonesia pada fase puncak haji tahun ini.

    “Capaian ini tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara jemaah, petugas haji Indonesia, syarikah, serta otoritas Arab Saudi dalam memastikan mobilisasi jemaah berlangsung aman dan lancar,” katanya.

    Kemenhaj menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaah haji Indonesia yang telah menunjukkan kedisiplinan, kesabaran, dan kepatuhan terhadap arahan petugas selama pelaksanaan Armuzna. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh petugas haji Indonesia yang telah bekerja tanpa mengenal waktu dalam memberikan layanan, pendampingan, perlindungan, dan pengawasan kepada jemaah.

    Terkait pelaksanaan dam, Hasan menyampaikan hingga hari ini tercatat sebanyak 195.326 jemaah haji Indonesia telah menyelesaikan kewajiban dam. Rinciannya, 135.367 jemaah menunaikan dam melalui program Adahi, 53.506 jemaah melalui lembaga resmi Indonesia, dan 6.453 jemaah melalui puasa. Selain itu, terdapat 4.084 jemaah haji Indonesia yang mengambil skema Haji Ifrad.

    “Capaian ini menunjukkan tingginya kepatuhan jemaah dalam memenuhi ketentuan ibadah, sekaligus mendukung tata kelola pelaksanaan dam yang tertib, aman, dan akuntabel,” jelas Hasan.

    Meski fase Armuzna telah berakhir, Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk tetap menjaga kesehatan dan mengatur aktivitas ibadah secara bijak. Kondisi cuaca di Makkah masih cukup panas sehingga jemaah diminta memperbanyak konsumsi air putih, makan secara teratur, beristirahat yang cukup, serta menggunakan pelindung kepala atau payung saat beraktivitas di luar hotel.

    Hasan juga mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri menjalankan ibadah tambahan apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada jemaah lanjut usia, jemaah disabilitas, jemaah perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi.

    “Kami mengajak ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, keluarga, serta sesama jemaah untuk terus memberikan perhatian dan pendampingan kepada jemaah yang membutuhkan,” ujarnya.

    Terkait layanan transportasi di Kota Makkah, Kemenhaj menginformasikan bahwa berdasarkan pemberitahuan dari Naqabbah Ammah Lissayarat Makkah, layanan Bus Shalawat kembali beroperasi pada Ahad, 31 Mei 2026 pukul 13.00 Waktu Arab Saudi.

    “Kami mengimbau jemaah memperhatikan informasi ini dan menyesuaikan rencana perjalanan menuju Masjidil Haram sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Hasan.

    Mulai 1 Juni 2026, jemaah haji Indonesia gelombang pertama juga akan memasuki fase kepulangan ke Tanah Air secara bertahap melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Kemenhaj mengimbau jemaah mulai mempersiapkan barang bawaan dan memperhatikan seluruh ketentuan penerbangan.

    Kemenhaj secara khusus mengingatkan jemaah agar tidak memasukkan air zamzam ke dalam koper bagasi maupun koper kabin. Air zamzam akan didistribusikan kepada jemaah melalui mekanisme yang telah ditetapkan, sehingga tidak perlu dibawa secara mandiri dalam barang bawaan.

    “Pastikan paspor, kartu identitas, obat-obatan pribadi, serta barang-barang penting lainnya tersimpan dengan baik dan mudah dijangkau saat proses kepulangan,” tutur Hasan.

    Kemenhaj mengajak seluruh jemaah untuk terus menjaga kekompakan, saling membantu, dan saling mengingatkan dalam kebaikan hingga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dengan selamat.

    “Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para jemaah haji Indonesia, memberikan kesehatan dan kekuatan dalam menyelesaikan rangkaian ibadah yang tersisa, serta mengantarkan seluruh jemaah kembali ke Indonesia dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur dan hajjah yang mabruroh,” pungkasnya.

    Sumber: Kemenhaj

    Pewarta: Hebatdiki

  • Fase Mina Berakhir, Menhaj Apresiasi Ketertiban Jemaah dan Siapkan Haji 2027

    Fase Mina Berakhir, Menhaj Apresiasi Ketertiban Jemaah dan Siapkan Haji 2027

    SALAMRADIO.ID, Makkah (Kemenhaj) — Fase puncak ibadah haji di Mina resmi berakhir pada 13 Zulhijjah 1447 H. Seluruh jemaah haji Indonesia yang mengambil pilihan Nafar Tsani telah meninggalkan tenda-tenda di Mina dan kembali ke hotel masing-masing di Makkah dengan aman, tertib, dan lancar.

    Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh tahapan puncak haji tahun ini. Menurutnya, keberhasilan fase Mina merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur penyelenggara, petugas, dan jemaah haji Indonesia.

    “Alhamdulillah, fase Mina telah berakhir dengan baik. Hari ini pukul 15.00 waktu Arab Saudi, seluruh jemaah haji Indonesia telah meninggalkan Mina dan kembali ke hotel masing-masing di Makkah. Mina clear dari jemaah haji Indonesia,” ujar Menhaj di Makkah, Sabtu (30/5/2026).

    Menhaj menjelaskan, sebelumnya jemaah yang mengambil pilihan Nafar Awal telah kembali ke hotel pada 12 Zulhijjah. Sementara jemaah Nafar Tsani kembali ke hotel pada 13 Zulhijjah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Mina.

    Meski fase Mina telah selesai, Menhaj menegaskan bahwa layanan kepada jemaah haji tetap berlanjut. Sebagian jemaah telah melaksanakan tawaf ifadah pada 10 hingga 13 Zulhijjah, sementara sebagian lainnya masih akan menyelesaikan tawaf ifadah dan rangkaian ibadah lainnya sebelum kembali ke Tanah Air.

    Menhaj menginstruksikan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi agar terus mengawal dan mendampingi jemaah yang belum melaksanakan tawaf ifadah. Pendampingan ini penting untuk mengantisipasi kepadatan di area tawaf, sekaligus memastikan jemaah lanjut usia dan jemaah berisiko tinggi tetap mendapatkan perhatian prioritas.

    Secara khusus, Menhaj menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaah haji Indonesia yang telah kooperatif dan tertib mengikuti arahan petugas selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PPIH Arab Saudi atas dedikasi dan kerja keras dalam melayani jemaah.

    “Saya sampaikan apresiasi kepada jemaah haji Indonesia atas ketertibannya dalam menjalani rangkaian ibadah haji. Terima kasih juga kepada seluruh petugas yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Semoga jemaah haji Indonesia menjadi haji yang mabrur,” kata Menhaj.

    Menhaj juga mengimbau jemaah untuk tetap menjaga kesehatan setelah menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji. Sebab, pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air akan mulai berlangsung pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026 secara bertahap.

    “Jemaah kami imbau untuk tetap menjaga kesehatan, cukup beristirahat, dan mengikuti arahan petugas. Mulai 1 Juni, proses kepulangan jemaah ke Tanah Air akan berlangsung secara bertahap hingga 30 Juni,” lanjutnya.

    Menhaj menambahkan, berakhirnya fase Mina tidak menjadi akhir dari kerja penyelenggaraan haji. Kemenhaj akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh tahapan layanan sebagai bahan perbaikan untuk penyelenggaraan haji berikutnya.

    Pada 29 Mei 2026, Kemenhaj juga telah menerima informasi awal dan timeline penyelenggaraan haji 2027 dari Pemerintah Arab Saudi. Informasi tersebut akan menjadi dasar bagi Kemenhaj untuk menyiapkan penyelenggaraan haji tahun depan sejak dini.

    Kemenhaj bersama DPR RI berkomitmen memperkuat sinergi dalam mempersiapkan operasional haji 2027 secara lebih matang. Menurut Menhaj, pengalaman persiapan lebih awal pada penyelenggaraan haji 2026 memberikan dampak besar terhadap keteraturan operasional, kualitas layanan, dan kesiapan seluruh unsur penyelenggara.

    “Evaluasi dan persiapan harus dilakukan sejak dini. Pengalaman tahun ini menunjukkan bahwa persiapan lebih awal memberikan dampak besar terhadap keteraturan, kualitas layanan, dan kesiapan seluruh unsur penyelenggara. Kita ingin penyelenggaraan haji 2027 menjadi lebih baik, lebih tertata, ramah lansia, serta semakin menghadirkan layanan yang aman dan membahagiakan jemaah,” tandas Menhaj.

    Sumber: Kemenhaj
    Pewarta: hebatdiki

  • Kemenhaj: Jemaah Nafar Tsani Mulai Bergerak dari Mina ke Makkah

    Kemenhaj: Jemaah Nafar Tsani Mulai Bergerak dari Mina ke Makkah

    SALAMRADIO.ID, Mina (Kemenhaj) — Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan perkembangan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, khususnya pelaksanaan fase Mina pada hari Tasyrik ketiga, Sabtu (30/5/2026), bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1447 H.

    Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha, mengatakan rangkaian puncak ibadah haji atau Armuzna sejauh ini berjalan lancar, tertib, dan terkendali.

    “Alhamdulillah, setelah jemaah melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, serta melaksanakan lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik, saat ini sebagian jemaah haji Indonesia yang mengambil Nafar Tsani melanjutkan penyempurnaan rangkaian ibadah dengan melaksanakan lontar jumrah pada hari Tasyrik ketiga,” ujar Ichsan di Mina.

    Ichsan menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaah haji Indonesia yang telah mengikuti arahan petugas, menjaga ketertiban, serta melaksanakan pergerakan menuju Jamarat sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

    Menurutnya, kedisiplinan jemaah menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan selama fase Mina berlangsung.

    Pada hari Tasyrik ketiga, jemaah haji Indonesia yang mengambil Nafar Tsani melaksanakan lontar tiga jumrah, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah. Kemenhaj mengimbau jemaah agar benar-benar memperhatikan jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar waktu yang telah diatur.

    “Kami mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia yang mengambil Nafar Tsani agar segera menuntaskan rangkaian lontar jumrah sesuai jadwal, kemudian kembali ke tenda masing-masing di Mina untuk bersiap mengikuti proses pergerakan menuju Makkah,” kata Ichsan.

    Ia menegaskan, imbauan tersebut penting untuk memastikan proses kepulangan jemaah dari Mina menuju Makkah berlangsung tertib, aman, dan terkoordinasi, sekaligus menghindari kepadatan pada jalur mobilisasi.

    Jemaah juga diminta tetap mengikuti arahan petugas, menjaga ketertiban, memastikan barang bawaan tidak tertinggal, serta mempersiapkan diri sesuai jadwal keberangkatan demi kelancaran layanan dan kenyamanan bersama.

    Ichsan menjelaskan, Kementerian Haji dan Umrah telah menempatkan Petugas Satgas Mina di sejumlah titik pantau dan jalur pergerakan jemaah. Secara keseluruhan, sebanyak 1.356 Petugas Satgas Mina disiagakan untuk mendukung layanan, pengawasan, pengaturan arus jemaah, serta respons cepat terhadap kebutuhan jemaah di lapangan.

    Pos pantau Satgas Mina ditempatkan di sejumlah titik strategis, antara lain Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gerbang terowongan Muaisim Turki, depan Syarikah, serta sejumlah pos pengarah pergerakan jemaah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah setelah melaksanakan lontar jumrah.

    “Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan jemaah haji Indonesia menuju Jamarat, membantu pengaturan arus saat pelaksanaan lontar jumrah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko,” jelas Ichsan.

    Mulai Sabtu pagi waktu Arab Saudi, jemaah yang melaksanakan Nafar Tsani mulai diberangkatkan dari Mina menuju Makkah untuk kembali ke hotel masing-masing. Kemenhaj mengingatkan bahwa lalu lintas menuju hotel diperkirakan masih padat dan kemungkinan terdapat pengalihan jalur transportasi.

    “Kami mengimbau jemaah tetap sabar dan tenang selama perjalanan menuju hotel. Kami mengupayakan jemaah dapat diturunkan di depan hotel. Namun, apabila tidak memungkinkan karena adanya penutupan jalan, bus akan menurunkan jemaah di lokasi terdekat dengan hotel. Kami mohon pengertian dan dukungan jemaah,” ujar Ichsan.

    Kemenhaj juga mengingatkan jemaah untuk terus menjaga kesehatan. Kondisi cuaca di Mina pada siang hari masih cukup panas. Karena itu, jemaah diminta memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan payung atau pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak perlu.

    Bagi jemaah lansia, jemaah disabilitas, jemaah perempuan, serta jemaah dengan risiko kesehatan tinggi, Kemenhaj meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih.

    “Kami kembali mengajak seluruh jemaah haji Indonesia untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutup Ichsan.

    Sumber: Kemenhaj
    Pewarta: Hebatdiki

  • Kemenhaj Perkuat Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina

    Kemenhaj Perkuat Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina

    SALAMRADIO.ID, Jakarta (Kemenhaj)— Kementerian Haji dan Umrah memastikan layanan jemaah haji Indonesia pada fase Mina, khususnya pelaksanaan lontar jumrah hari Tasyrik kedua, Jumat (29/5/2026) atau 12 Dzulhijjah 1447 H, berjalan tertib, terkendali, dan berorientasi pada pelindungan jemaah.

    Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, menyampaikan bahwa jemaah haji Indonesia pada hari Tasyrik kedua melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk disiplin mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan dan tidak bergerak menuju Jamarat di luar waktu yang diatur.

    “Keselamatan jemaah menjadi prioritas utama. Kami mengimbau seluruh jemaah untuk tidak melontar pada waktu larangan, khususnya pukul 10.00 sampai 14.00 waktu Arab Saudi. Jemaah diminta tidak terburu-buru, tidak berangkat sendiri, dan selalu bergerak bersama rombongan serta mengikuti arahan petugas,” ujar Maria di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

    Untuk 12 Zulhijjah, jadwal lontar jumrah bagi jemaah Indonesia dibagi dalam dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai 10.30 WAS dan pukul 18.00 sampai 24.00 WAS. Sementara waktu larangan melontar berlaku pukul 11.00 sampai 14.00 WAS. Pada rentang waktu tersebut, jemaah diminta tetap berada di tenda masing-masing guna menjaga kondisi fisik dan menghindari paparan cuaca panas serta kepadatan di kawasan Jamarat.

    Maria juga mengimbau jemaah yang mengambil Nafar Awal agar segera menuntaskan rangkaian lontar jumrah sesuai jadwal, lalu kembali ke tenda masing-masing di Mina. Mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WAS, jemaah Nafar Awal diberangkatkan secara bertahap dan bergelombang menuju Makkah menggunakan bus yang telah disiapkan petugas.

    “Jemaah Nafar Awal kami minta tetap tertib, tidak memisahkan diri dari rombongan, dan mempersiapkan diri sesuai jadwal keberangkatan. Pengaturan bertahap ini penting agar pergerakan menuju Makkah berlangsung aman, nyaman, dan tidak menimbulkan kepadatan,” jelas Maria.

    Sebagai penguatan layanan di lapangan, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina di sejumlah titik pantau dan jalur pergerakan jemaah. Petugas ditempatkan antara lain di Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gerbang terowongan Muaisim Turki, depan Syarikah, serta sejumlah pos pengarah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah.

    Petugas Satgas Mina bertugas mengarahkan jemaah menuju Jamarat, membantu pengaturan arus, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah kembali melalui jalur aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko.

    Selain itu, Kemenhaj melalui Satgas Operasional Armuzna mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina. Armada ini disiapkan untuk membantu jemaah yang mengalami kelelahan, jemaah lanjut usia, jemaah disabilitas, jemaah yang terpisah dari rombongan, maupun jemaah yang kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah.

    “Mobil golf kami siagakan sebagai layanan respons cepat bagi jemaah yang membutuhkan bantuan di sekitar Jamarat dan jalur pergerakan Mina. Petugas bergerak menyisir titik-titik strategis agar jemaah yang kelelahan, tersesat, atau terpisah dari rombongan bisa segera didampingi dan diantar kembali ke tenda dengan aman,” tutur Maria.

    Kemenhaj juga menempatkan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat, Mina. MCR merupakan tim khusus dan posko layanan kedaruratan yang disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, membantu evakuasi darurat, serta mengurai kepadatan jemaah pada fase puncak ibadah haji.

    Maria menjelaskan, MCR disiagakan untuk menangani berbagai situasi kedaruratan, antara lain jemaah pingsan, mengalami kelelahan ekstrem, tersesat, terpisah dari rombongan, hingga evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.

    “Kehadiran Satgas Mina, mobil golf, dan MCR merupakan bagian dari komitmen Kemenhaj menghadirkan layanan yang cepat, dekat, dan responsif. Kami ingin memastikan setiap jemaah, terutama lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah risiko tinggi, mendapatkan pelindungan dan pendampingan selama fase Mina,” ungkap Maria.

    Kemenhaj kembali mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan selama berada di Mina. Jemaah diminta memperbanyak minum air putih, makan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.

    Keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah juga diminta memberikan perhatian lebih kepada jemaah rentan. Jika ditemukan jemaah kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas terdekat.

    “Kami mengajak seluruh jemaah untuk saling menjaga, saling membantu, dan saling mengingatkan. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi kunci agar seluruh rangkaian ibadah di Mina berjalan aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” pungkas Maria.

    Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah, terus diperkuat sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai.

    Sumber: Kemenhaj

  • Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue di Mina, Perkuat Perlindungan Jemaah Saat Lontar Jumrah

    Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue di Mina, Perkuat Perlindungan Jemaah Saat Lontar Jumrah

    SALAMRADIO.ID, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat perlindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat. Tim khusus ini disiapkan untuk memberikan respons cepat terhadap kondisi darurat, mulai dari pertolongan pertama, evakuasi, hingga membantu mengurai kepadatan jemaah saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik.

    Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menjelaskan bahwa MCR menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menghadirkan layanan haji yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh jemaah, khususnya lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

    “MCR merupakan tim khusus yang bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, serta membantu mengatasi kepadatan di kawasan Jamarat selama puncak ibadah haji,” kata Maria, Kamis (28/5/2026).

    Posko-posko MCR ditempatkan di sejumlah titik strategis di area Jamarat dan jalur pergerakan jemaah. Dengan penempatan tersebut, petugas dapat memantau situasi secara langsung dan memberikan bantuan secara cepat kepada jemaah yang mengalami kelelahan, tersesat, pingsan, maupun membutuhkan evakuasi khusus.

    Selain menyiagakan MCR, Kemenhaj juga mengerahkan 1.356 Petugas Satgas Mina yang ditempatkan di berbagai titik pantau, jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, hingga pos pemantauan arus kepulangan dari lontar jumrah. Kehadiran petugas ini bertujuan memastikan pergerakan jemaah berlangsung tertib dan aman.

    Pada fase lontar jumrah, Kemenhaj mengimbau jemaah untuk mematuhi jadwal yang telah ditetapkan serta tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Jemaah diminta tetap bersama rombongan dan mengikuti arahan petugas guna menghindari kepadatan serta risiko keselamatan.

    Maria juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik di tengah cuaca Mina yang masih cukup panas. Jemaah diimbau memperbanyak minum air putih, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, dan membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.

    “Kami mengajak seluruh jemaah untuk saling menjaga, saling membantu, dan tetap mengikuti arahan petugas. Keselamatan jemaah adalah prioritas utama agar seluruh rangkaian ibadah haji dapat berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan,” ujarnya.

    Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Armuzna, mulai dari kesehatan, konsumsi, transportasi, bimbingan ibadah, hingga perlindungan jemaah, terus diperkuat hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai.

    Sumber: Kemenhaj
    Pewarta : Hebatdiki@MCH2026

  • Lautan Talbiyah Iringi Perjalanan Jemaah Haji Banjarnegara dari Muzdalifah ke Mina pada Puncak Haji 1447 H

    Lautan Talbiyah Iringi Perjalanan Jemaah Haji Banjarnegara dari Muzdalifah ke Mina pada Puncak Haji 1447 H

    SALAMRADIO.ID, Mina — Ribuan jemaah haji Indonesia asal Banjarnegara kini tengah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina setelah menyelesaikan wukuf di Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 waktu Arab Saudi. Pergerakan jemaah berlangsung tertib di tengah suasana haru dan kekhusyukan rangkaian puncak ibadah Haji 1447 H.

    Musim haji tahun ini menjadi salah satu penyelenggaraan terbesar dengan jumlah jemaah mencapai 1,5 juta orang dari berbagai negara. Pemerintah Arab Saudi mencatat peningkatan jumlah jemaah seiring adanya penambahan kuota haji tahun 2026.

    Ketua Kloter 72 SOC, KH Nafis Atoillah, menjelaskan seluruh jemaah haji asal Banjarnegara dalam kondisi baik setelah menjalani wukuf di Padang Arafah. Saat ini para jemaah mulai memasuki tahapan pergerakan menuju Mina untuk melanjutkan prosesi mabit dan lempar jumrah.

    “Seluruh jemaah haji asal Banjarnegara Alhamdulillah telah melaksanakan wukuf di Arafah,” ujar Nafis.

    Ia menjelaskan proses keberangkatan jemaah dilakukan secara bertahap guna menjaga kelancaran operasional Armuzna. Pergerakan dimulai dari kloter SOC 69, kemudian disusul SOC 71, SOC 72, SOC 73, SOC 70, SOC 74, hingga kloter UPG 20 dan UPG 35.

    Menurut Nafis yang juga Sekretaris ICMI Banjarnegara, jadwal pergerakan dari Muzdalifah menuju Mina dimulai pukul 02.30 WAS. Sementara bagi jemaah dengan skema murur diberangkatkan lebih awal sejak pukul 19.00 WAS untuk mengurangi kepadatan dan menjaga kenyamanan jemaah, khususnya lansia dan risiko tinggi.

    “Adapun jemaah yang tanazul dari Mina dijadwalkan pukul 22.00 WAS pada Rabu, 27 Mei 2026,” tambahnya.

    Di tengah dinginnya malam Muzdalifah dan padatnya arus jutaan jemaah dunia, semangat ibadah para jemaah haji Indonesia tetap terasa kuat. Lantunan talbiyah terus menggema mengiringi perjalanan spiritual menuju Mina, menjadi simbol kepasrahan dan penghambaan umat Muslim kepada Allah SWT pada puncak Haji 1447 H.

    Pewarta : Hebatdiki@MCH2026

  • Di Arafah, Ketua DPC Syarikat Islam Banjarnegara Ajak Jamaah Kembali ke Fitrah

    Di Arafah, Ketua DPC Syarikat Islam Banjarnegara Ajak Jamaah Kembali ke Fitrah

    SALAMRADIO.ID, Arafah — Jamaah haji seluruh dunia hari ini, Selasa 26 Mei 2026, berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf sebagai ibadah puncak haji. Ketua DPC Syarikat Islam Banjarnegara Musobihin yang juga sebagai Pembimbing Ibadah Kloter 71 SOC yang sebagian besar warga Syarikat Islam Banjarnegara bertindak sebagai imam sekaligus khotib.

    Dalam khutbahnya, pria yang akrab dipanggil Abah Muso ini mengingatkan agar jamaah haji dapat mengoptimalkan momen wukuf sebagai sarana taubat.

    “Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemewahan dunia. Wukuf bukan sekadar hadir jasmani, namun hadir dengan hati. Mengakui kelemahan diri. Kembali pada Allah dengan membawa dosa sekaligus harapan pengampunan,” ujar Kepala KUA Kecamatan Banjarnegara itu.

    Ia juga mengingatkan bahwa wukuf momen yang tepat untuk mendoakan bangsa Indonesia yang beragam. Sekaligus berpesan bahwa oleh-oleh terbaik dari berhaji adalah ketaqwaan.

    “Oleh-oleh terbaik berhaji bukan souvenir, bukan gelar haji. Namun taqwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat dengan Allah dan kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermanfaat,” tandas Musobihin.
    Ia menutup khutbah dengan menyampaikan bahwa inti ibadah haji yang agung bukan perjalanan wisata, perjalanan status ataupun perjalanan mencari sebutan.

    “Haji adalah perjalanan kembali kepada Allah. Kembali kepada fitrah, kembali pada hidup bersih. Haji mabrur bukan hanya selesai menjalani manasik, namun perubahan hidup yang akan menampakan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan,” pungkas Musobihin.

    Pewarta: Heni Purwono

  • Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah, Kemenhaj Imbau Jaga Kesehatan Selama Armuzna

    Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah, Kemenhaj Imbau Jaga Kesehatan Selama Armuzna

    SALAMRADIO.ID, Jakarta (Kemenhaj) — Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan bahwa jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel masing-masing menuju Arafah pada Senin (25/5/2026), bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, untuk menjalani rangkaian puncak ibadah haji.

    “Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Ulfa Assegaf, di Jakarta, Senin (25/5).

    Maria menjelaskan, pergerakan jemaah menuju Arafah dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi.

    “Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” lanjutnya.

    Selain kesiapan teknis, Kemenhaj juga mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kepatuhan terhadap ketentuan ihram selama menjalani rangkaian ibadah.

    “Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban, serta tidak menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit,” jelas Maria.

    “Sedangkan bagi jemaah perempuan, selama dalam keadaan ihram tidak diperkenankan menutup wajah dengan cadar maupun menggunakan sarung tangan. Seluruh jemaah juga harus menjaga diri dari larangan ihram lainnya seperti memotong kuku, mencabut rambut, menggunakan wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk,” sambungnya.

    Maria juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama fase Armuzna yang membutuhkan stamina tinggi dan mobilitas intensif.

    “Kami meminta seluruhy jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji,” ujarnya.

    “Gunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko6 kelelahan akibat cuaca panas. Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau,” tambahnya.

    Ia juga mengingatkan agar jemaah segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan.

    “Jangan memaksakan diri. Bila merasa lemas,u pusing, sesak napas, atau mengalami gangguan kesehatan lainnya, segera hubungi petugas kesehatan. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat berjalan aman, lancar, dan sempurna,” tegas Maria.

    Selain itu, penguatan layanan kesehatan selama puncak haji juga terus dilakukan melalui kesiapan fasilitas kesehatan lapangan.

    “Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna,” kata Maria.

    Untuk mendukung kelancaran operasional, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga telah ditempatkan di berbagai titik layanan.

    “Mereka terdiri dari petugas adhoc Arafah, koordinator markas, pengawas konsumsi, dan unsur layanan lainnya yang akan memastikan transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah berjalan maksimal,” jelasnya.

    Menutup keterangannya, Maria mengajak seluruh jemaah untuk saling peduli dan saling membantu selama menjalani puncak ibadah haji.

    “Jika melihat jemaah yang tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, mohon segera dibantu dan dilaporkan kepada petugas terdekat. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberi kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lontar jumrah di Mina,” pungkas Maria.

    Sumber: Kemenhaj
    Pewarta: Hebatdiki

  • Tangis Haru Jemaah Haji Indonesia Pecah di Arafah, Kloter BDJ 17, 18, dan 19 Jadi Gelombang Perdana Puncak Haji 1447 H

    Tangis Haru Jemaah Haji Indonesia Pecah di Arafah, Kloter BDJ 17, 18, dan 19 Jadi Gelombang Perdana Puncak Haji 1447 H

    SALAMRADIO.ID, Arafah — Puncak ibadah Haji 1447 H resmi dimulai dengan tibanya jemaah haji Indonesia dari embarkasi BDJ 17, 18, dan 19 di Padang Arafah pada 8 Dzulhijjah 1447 H, Senin pagi pukul 08.00 WAS. Kedatangan para tamu Allah tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang merupakan fase terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji.

    Suasana haru menyelimuti kawasan Arafah ketika ribuan jemaah mulai turun dari bus dan menginjakkan kaki di tanah yang menjadi saksi berkumpulnya umat Islam dari seluruh dunia. Wajah-wajah penuh syukur tampak jelas dari para jemaah asal Kalimantan Selatan tersebut. Sebagian jemaah bahkan terlihat meneteskan air mata saat tiba di tenda-tenda Arafah.

    Bagi para jemaah, berada di Padang Arafah bukan sekadar perpindahan lokasi ibadah, tetapi menjadi momen spiritual yang telah lama dinantikan sepanjang hidup mereka. Di tempat inilah seluruh jemaah haji akan menjalani wukuf pada 9 Dzulhijjah, yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.

    Petugas haji Indonesia tampak sigap menyambut kedatangan jemaah dengan membantu proses penempatan tenda, distribusi konsumsi, hingga memastikan kondisi lansia dan jemaah risiko tinggi tetap terpantau dengan baik. Pelayanan yang tertata membuat proses kedatangan jemaah di Arafah berlangsung aman dan lancar.

    Kedatangan kloter BDJ 17, 18, dan 19 menjadi awal penting operasional puncak haji 1447 H di Arab Saudi. Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus memastikan seluruh layanan berjalan optimal agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, aman, dan khusyuk.

    Padang Arafah kembali menjadi tempat berkumpulnya jutaan umat Muslim dunia yang datang membawa doa, harapan, dan kerinduan spiritual. Di tengah teriknya cuaca Arab Saudi, semangat para jemaah Indonesia tetap terpancar kuat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima dengan penuh keikhlasan.

    Pewarta : Hebatdiki@MCH2026

  • Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Saudi, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna

    Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Saudi, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna

    SALAMRADIO.ID, Jakarta (Kemenhaj) — Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh fase keberangkatan jemaah haji Indonesia dari Tanah Air telah selesai dilaksanakan. Seluruh jemaah kini telah tiba di Arab Saudi dan fokus layanan diarahkan pada persiapan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.

    Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan berdasarkan data operasional terbaru, sebanyak 527 kloter dengan 202.551 jemaah dan 2.098 petugas telah tiba di Makkah. Selain itu, sebanyak 16.596 jemaah haji khusus juga telah tiba di Arab Saudi.

    “Alhamdulillah, seluruh fase keberangkatan jemaah haji Indonesia dari Tanah Air telah selesai. Saat ini, seluruh layanan kami arahkan untuk memastikan kesiapan Armuzna, mulai dari tenda, penempatan jemaah, konsumsi, transportasi, kesehatan, perlindungan jemaah, hingga penempatan petugas,” ujar Maria di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

    Maria juga mengingatkan seluruh KBIHU agar tidak memasang atribut, spanduk, stiker, tanda, atau penanda dalam bentuk apa pun di tenda jemaah, baik di Arafah maupun Mina. Menurutnya, seluruh penempatan jemaah harus mengikuti pengaturan resmi agar layanan Armuzna berjalan tertib dan tidak menimbulkan kebingungan.

    “Apabila petugas menemukan atribut atau identitas KBIHU yang terpasang di tenda Arafah maupun Mina, atribut tersebut akan langsung dicabut. Kemenhaj juga akan memberikan teguran dan sanksi sesuai ketentuan kepada pihak yang tetap melanggar,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu, Maria menyampaikan apresiasi kepada jemaah yang telah membayar dam sesuai ketentuan resmi. Jumlah jemaah yang terdata telah membayar dam tahun ini mencapai sekitar 145.341 orang. Dari jumlah tersebut, 102.364 jemaah membayar dam di Arab Saudi melalui Adahi, sementara 38.992 jemaah membayar dam melalui mekanisme di Indonesia.

    “Capaian ini menunjukkan meningkatnya kesadaran jemaah untuk melaksanakan kewajiban dam secara tertib, aman, dan sesuai ketentuan. Kemenhaj terus memastikan pengelolaan dam berjalan transparan dan memberikan kepastian bagi jemaah,” kata Maria.

    Menjelang Armuzna, Kemenhaj mengimbau jemaah untuk mulai menghemat tenaga, memperbanyak istirahat, menjaga asupan makan dan minum, serta mengikuti arahan petugas. Jemaah juga diminta membawa barang secukupnya selama Armuzna, terutama dokumen identitas, obat pribadi, perlengkapan ibadah, masker, botol minum, alas kaki yang nyaman, dan perlengkapan kebersihan pribadi.

    Maria juga mengajak seluruh jemaah dan petugas untuk saling peduli. Bila melihat jemaah berjalan sendirian, kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, segera antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan kloter.

    “Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan kelancaran pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Semoga seluruh jemaah diberi kesehatan, keselamatan, dan kemudahan, serta dapat kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur dan mabrurah,” pungkas Maria.

    Sumber: Kemenhaj
    Pewarta: Hebatdiki