SALAMRADIO.ID, Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya penguatan koperasi sebagai instrumen ekonomi kerakyatan untuk mengatasi ketidakberdayaan dan kemiskinan di Indonesia. Penegasan tersebut disampaikan Presiden dalam pidato peringatan Hari Lahir Pancasila yang berlangsung di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6/2026).
Acara kenegaraan tersebut dihadiri Presiden Kelima Republik Indonesia Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12 H. Muhammad Yusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13 Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ibu Soraya Hamzah Haz selaku istri Wakil Presiden Republik Indonesia ke-9, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta para pimpinan lembaga negara, menteri kabinet, dan pejabat tinggi negara lainnya.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Ekonomi Pancasila merupakan sistem ekonomi yang egaliter dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Menurutnya, konsep tersebut merupakan cetak biru yang telah dirancang oleh para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya yang meletakkan fondasi ekonomi nasional berdasarkan semangat gotong royong dan kekeluargaan.
“Ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang berlandaskan gotong royong dan asas kekeluargaan sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Sistem ini menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan,” ujar Prabowo.
Karena itu, Presiden menyoroti peran strategis koperasi sebagai salah satu instrumen yang paling sesuai dengan karakter ekonomi bangsa Indonesia. Koperasi dinilai mampu menjadi sarana pemberdayaan masyarakat sekaligus jalan keluar untuk mengatasi ketidakberdayaan ekonomi yang masih dialami sebagian rakyat Indonesia.
Pandangan Presiden tersebut memiliki akar historis yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sebagaimana ditulis dalam portal ecatri.com berjudul Bara Islam dan Kebangsaan SI Nyalakan Ukhuwah Iqtishadiyah, gagasan ekonomi kerakyatan dan kemandirian masyarakat telah menjadi bagian dari perjuangan pergerakan nasional jauh sebelum Indonesia merdeka.
Ketika Kongres Nasional (National Congress/NATICO) I Sarekat Islam berlangsung pada 16–18 Juni 1916 di Societaat Concordia, yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka Bandung, ribuan anggota Sarekat Islam dari berbagai daerah hadir dan memamerkan beragam produk hasil industri olahan rakyat. Forum tersebut menjadi bukti bahwa gerakan kebangsaan Indonesia sejak awal tidak hanya berbicara mengenai kemerdekaan politik, tetapi juga mengenai kemandirian ekonomi masyarakat.
Pada kesempatan itu, H.O.S. Tjokroaminoto menyampaikan pidato berjudul Zelfbestuur yang membangkitkan kesadaran nasional mengenai pentingnya pemerintahan sendiri bagi kaum pribumi Hindia Belanda. Pidato tersebut menanamkan keyakinan bahwa rakyat Indonesia telah memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupan politik, ekonomi, dan sosialnya secara mandiri.
Pidato Zelfbestuur menjadi salah satu tonggak penting yang menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan harus dibangun dari bawah, melalui penguatan rakyat, desa, dan komunitas ekonomi yang mandiri. Gagasan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai gerakan ekonomi rakyat yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.
Menyematkan Islam sebagai nama organisasi, Sarekat Islam menegaskan dirinya sebagai gerakan yang mengabdi kepada rakyat dan bangsanya. Nilai-nilai yang diusung bersifat universal, terbuka bagi manusia merdeka yang berpikir dan bertindak secara bebas, serta berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan bersama.
Setarikan napas dengan semangat tersebut, kaum Sarekat Islam dikenal memiliki karakter egaliter, inklusif, kosmopolit, tegas dalam pendirian, cerdas dalam berpikir, serta tangkas dalam bertindak. Karakter tersebut menunjukkan adanya kesamaan spirit dengan nilai-nilai Ekonomi Pancasila yang kembali ditegaskan Presiden Prabowo dalam peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini.
Semangat gotong royong, pemberdayaan rakyat, dan penguatan kedaulatan ekonomi menjadi benang merah yang menghubungkan perjuangan para pendiri bangsa dengan agenda pembangunan Indonesia masa kini. Dalam konteks tersebut, koperasi tidak hanya dipahami sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen perjuangan sosial untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa cita-cita kemerdekaan tidak berhenti pada kedaulatan politik, tetapi harus diwujudkan dalam kedaulatan ekonomi rakyat. Gagasan yang disampaikan Presiden Prabowo tentang penguatan koperasi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa semangat Ekonomi Pancasila tetap relevan menjawab tantangan zaman. Seperti yang diperjuangkan para tokoh pergerakan nasional melalui konsep Zelfbestuur dan kemandirian ekonomi rakyat, koperasi hadir sebagai sarana gotong royong untuk membebaskan masyarakat dari ketidakberdayaan, mempersempit kesenjangan, dan mengatasi kemiskinan. Dengan demikian, penguatan koperasi bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan ikhtiar melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pewarta: Agustian










