Pak Haji Sulaji, Tukang Tambal Ban yang Menabung 12 Tahun Demi Menjadi Tamu Allah

Di sebuah sudut jalan di Kota Semarang, terdapat lapak tambal ban sederhana yang setiap hari menjadi tempat mencari nafkah bagi Sulaji. Tangan yang terbiasa memegang alat tambal ban dan memperbaiki roda kendaraan itu ternyata menyimpan sebuah mimpi besar: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Mimpi tersebut tidak datang dengan mudah. Pada tahun 2014, Sulaji memberanikan diri mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Saat itu, penghasilannya sebagai tukang tambal ban jauh dari kata berlebih. Namun, ia percaya bahwa setiap rupiah yang disisihkan dengan niat tulus akan menjadi jalan menuju panggilan Allah SWT.

Selama bertahun-tahun, Sulaji menabung sedikit demi sedikit dari hasil pekerjaannya. Tidak ada penghasilan besar, tidak ada usaha megah. Hanya ketekunan, kesabaran, dan keyakinan yang terus ia pelihara di tengah keterbatasan ekonomi.

Penantian panjang itu akhirnya terjawab pada musim haji 1447 H/2026 M. Nama Sulaji masuk dalam daftar jemaah yang mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci. Kabar tersebut menjadi momen yang mengharukan bagi dirinya dan keluarga.

Namun perjalanan menuju Baitullah masih menyisakan tantangan. Untuk melunasi biaya perjalanan hajinya, Sulaji harus memanfaatkan dana pinjaman dari arisan yang diikutinya. Keputusan itu diambil demi mewujudkan impian yang telah diperjuangkan selama lebih dari satu dekade.

Artinya, ketika kembali ke Indonesia dengan gelar haji di depan namanya, Sulaji masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan kewajiban finansial yang tersisa. Kisah ini menjadi gambaran nyata bahwa di balik perjalanan ibadah haji, terdapat perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah berupaya hadir memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan. Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk memperkuat kehadiran negara di tengah rakyat, berbagai pihak melakukan kolaborasi guna meringankan beban yang dihadapi Sulaji. Dukungan juga terjalin melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Uni Emirat Arab sebagai bentuk kepedulian terhadap jemaah haji Indonesia.

Kisah Sulaji bukan hanya tentang perjalanan menuju Makkah. Ini adalah cerita tentang harapan, kerja keras, dan keyakinan seorang rakyat kecil yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Dari lapak tambal ban yang sederhana, ia membuktikan bahwa impian menjadi tamu Allah dapat diraih oleh siapa saja yang mau berjuang dan bersabar.

Ke depan, kisah seperti Sulaji diharapkan menjadi pengingat pentingnya edukasi haji kepada masyarakat. Bahwa selain kesiapan spiritual, perencanaan keuangan yang matang juga menjadi bagian penting dalam perjalanan suci menuju Baitullah. Sebab haji bukan hanya soal berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani prosesnya dengan penuh tanggung jawab dan keberkahan.

Pewarta: Hebatdiki