SALAMRADIO.ID., Makkah — Penantian panjang selama 14 tahun akhirnya terbayar lunas bagi Yaqub Ibrahim. Di usia 89 tahun, petani asal Bima itu akhirnya bisa menatap Ka’bah secara langsung dan menunaikan ibadah haji di musim haji 1447 Hijriyah/2026 Masehi.
Dengan langkah pelan dan wajah penuh haru, Yaqub mengenang perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci. Ia mengaku mulai mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji sejak tahun 2010. Keinginan sederhana menjadi alasan utama dirinya bertahan dalam penantian panjang tersebut.
“Motivasi saya karena ingin melihat Ka’bah secara langsung dan beribadah,” ujar Yaqub dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai petani kebun di kampung halamannya, Yaqub tidak memiliki penghasilan besar. Namun keterbatasan ekonomi tidak memadamkan niatnya untuk menjadi tamu Allah. Sedikit demi sedikit ia menabung hasil berkebun demi mewujudkan impiannya berhaji.
Perjalanan menuju Tanah Suci pun tidak mudah. Untuk menyelesaikan biaya pelunasan dan ongkos keberangkatan, Yaqub rela menjual kebun miliknya. Pengorbanan itu ia lakukan dengan ikhlas demi satu tujuan, yakni bisa beribadah di depan Ka’bah.
“Finansial habis jual kebun untuk melunasi dan buat ongkos,” tuturnya lirih.
Saat menerima kabar resmi keberangkatan haji tahun 2026, Yaqub mengaku tak mampu menahan emosi. Ia langsung sujud syukur karena merasa impian besarnya akhirnya dikabulkan Allah SWT.
“Alhamdulillah bahagia banget, sujud syukur, sedih juga karena ini impian kami,” katanya.
Di tengah usianya yang sudah lanjut, Yaqub merasa sangat terbantu dengan pelayanan haji Indonesia, terutama perhatian petugas kepada jemaah lansia. Menurutnya, pelayanan yang diberikan selama proses keberangkatan hingga di Tanah Suci membuat dirinya merasa nyaman dan tenang menjalani ibadah.
Meski demikian, Yaqub berharap pelayanan manasik khusus untuk lansia dapat lebih ditingkatkan di masa mendatang agar para jemaah usia lanjut semakin mudah memahami tahapan ibadah haji.
Kisah Yaqub Ibrahim menjadi potret perjuangan banyak jemaah lansia Indonesia. Di usia senja, semangat untuk memenuhi panggilan Allah tetap menyala, meski harus dibayar dengan pengorbanan harta, tenaga, dan penantian panjang selama bertahun-tahun.
Pewarta : Hebatdiki@MCH2026
