Dari Kue Kering ke Rendang Mendunia: Kisah Randang EGA yang Membawa Rasa ‘Babaliak Ka Kampuang’ ke Berbagai Negara

SALAMRADIO.ID, Di sebuah sudut Kampuang Tarandam Kayu Anggang Bunga, Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, aroma rendang yang dimasak dengan tungku kayu bakar perlahan menguar dari dapur kecil milik UMKM Randang EGA. Di balik aroma khas itu, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang pelaku usaha yang memulai bisnisnya dari nol.

Usaha ini dirintis oleh Mega Yuliana sekitar 11 tahun lalu. Awalnya, ia hanya memproduksi kue kering rumahan. Namun sebuah permintaan sederhana dari seorang pelanggan justru mengubah arah usahanya. Saat itu, seorang konsumen yang membawa kue kering buatannya ke Aceh tiba-tiba menghubunginya.

“Kak… kakak orang Padang kan? Aku lagi ngidam rendang Padang, bantu bikinkan ya kak,” begitu kira-kira pesan yang diterimanya.

Permintaan itulah yang menjadi titik awal lahirnya Randang EGA. Mega kemudian mencoba memasak rendang dengan resep turun-temurun keluarga yang dikombinasikan dengan racikan bumbu khas buatannya. Ia juga melakukan berbagai eksperimen cara memasak, mulai dari menggunakan kompor minyak tanah, kompor gas, hingga akhirnya menemukan rasa paling otentik melalui tungku kayu bakar.

“Dari situlah rasa khas rendang kami terbentuk,” ujarnya.

Keunikan rasa Randang EGA tidak lepas dari komitmen menjaga kualitas bahan baku. Kelapa yang digunakan harus benar-benar segar, bahkan diusahakan berasal dari kelapa yang baru jatuh dari pohonnya. Daging yang dipakai pun disembelih pada pagi hari dan langsung diolah siangnya agar kesegaran tetap terjaga.

Selain rendang kemasan, usaha ini juga memproduksi kerupuk jangek yang menjadi pelengkap kuliner khas Minangkabau.

Perlahan namun pasti, promosi melalui media sosial membuat produk ini semakin dikenal. Pesanan datang tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Rendang EGA bahkan pernah dibawa hingga ke Mekkah untuk jamaah haji dan umrah, serta ke negara seperti Jerman, Australia, Jepang, Filipina, Taiwan, Amerika, Belanda, hingga London.

Meski belum dalam skala besar, capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mega yang merintis usaha dari dapur sederhana.

Dalam hal ketahanan produk, Randang EGA mampu bertahan hingga tiga bulan di suhu ruang, dan bisa mencapai satu tahun jika disimpan dalam freezer. Hal ini membuat produk tersebut cukup diminati sebagai oleh-oleh atau bekal perjalanan jauh.

Saat ini, kapasitas produksi Randang EGA mencapai sekitar 100 kilogram setiap minggu. Penjualan dilakukan secara offline di kios yang beralamat di Jalan Bunga Pasang 1, Kampuang Tarandam Kayu Anggang Bunga, Painan, serta secara online melalui WhatsApp dan media sosial seperti Facebook Mega Yuliana dan Instagram @randangega.

Meski perjalanan usaha sudah memasuki tahun ke-11, tantangan tetap ada. Mulai dari menjaga konsistensi rasa, proses perizinan usaha, hingga penguatan pemasaran digital agar produk tradisional mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Mega berharap pemerintah terus memberi dukungan nyata kepada para pelaku UMKM agar bisa berkembang dan menembus pasar nasional maupun internasional.

Bagi Mega, Randang EGA bukan sekadar bisnis kuliner. Ia adalah persembahan rasa yang menghadirkan nostalgia kampung halaman.

“Randang EGA hadir dengan hati, membawa satu rasa: Babaliak Ka Kampuang,” tuturnya haru.

Sebuah pengingat bahwa dari dapur sederhana di Pesisir Selatan, cita rasa Minangkabau bisa menjangkau dunia.